Konsep Dasar
Asuhan Keperawatan SIADH
A.
Pengertian
Sindrom sekresi hormone antidiuretik
yang tidak sesuai (SIADH): Syndrome
of Inappropriate Antidiuretic Hormone Scretion mengacu pada
sekresi ADH yang berlebihan dari kelenjar hipofisis dalammenghadapi osmolalitas
serum subnormal.(Smeltzer:2001).
SIADH
adalah suatu karakteristik atau ciri dan tanda yang disebabkan oleh
ketidakmampuan ginjal mengabsorpsi atau menyerap air dalam bentuk ADH yang
berasal dari hipofisis posterior. (Barbara K.Timby2000)
SIADH
adalah gangguan yang berhubungan dengan peningkatan jumlah ADH akibat
ketidakseimbangan cairan. (Corwin, 2001)
SIADH
adalah gangguan pada hipofisis posterior akibat peningkatan pengeluaran ADH
sebagai respon terhadap peningkatan osmolaritas darah dalam tingkat yang lebih
ringan. (Corwin, 2001)
B.
Etiologi
SIADH
dapat disebabkan oleh kanker paru dan kanker lainnya. Penyakit paru
(pneumonia,TB) dan penyakit SSP( sistem saraf pusat) seperti atrofi serebrum senilis,
hidrosefalus, delifiumtremens, psilosis akut, penyakit demielinisasi dan
degenerative, penyakit peradangan,trauma/cedera kepala/cerebrovaskular
accident , pembedahan pada otak, tumor (karsinuma bronkus,leukemia, limfoma,
timoma, sarkoma) atau infeksi otak (ensepalitis, meningitis)dapat menimbulkan
SIADH melalui stimulasi langsung kelenjar hipofisis. Dan beberapa obat
(vasopressin, desmopresin asetat, klorpropamid, klofibrat,
karbamazepin,vinkristin, fenotiazin, antidepresan trisiklik, preparat diuretic
tiazida, dan lain-lain) dannikotin dapat terlibat terjadinya SIADH; zat-zat
tersebut dapat menstimulasi langsungkelenjar hipofisis atau meningkatkan
sensitifitas tubulus renal terhadap ADH yang beredardalam darah.
(Grabe, Mark
A. 2006)
SIADH
sering muncul pada dari masalah nonendokrin. Dengan kata lain sindrom tersebut
dapat terjadi pada penderita karsinoma bronkogenik tempat sel-sel paru yang
ganas mensintesis dan melepaskan ADH. SIADH juga bisa terjadi pada pneumonia
berat, pneumotoraks dan penyakit paru lainya. Kelainan pada sistem saraf pusat diperkirakan
juga bisa menimbulkan SIADH melalui
stimulus langsung kelenjar hipofisis seperti:
1. Cidera kepala
2. Pembedahan pada otak
3. Tumor
4. Infeksi otak
5. Beberapa obat (Vinkristin, fenotiazin,
antidepresan trisiklik, preparat diuretik tiazida dll)
(Brunner& sudart. 2003).
C.
Patofisiologi
SIADH
ditandai oleh peningkatan pelepasan ADH dari hipofisis posterior tanpa adanya
rangsangan normal untuk melepaskan ADH. Pengeluaran ADH yang berlanjut
menyebabkan retensi air dari tubulus ginjal dan duktus. Volume cairan ekstra
seluler meningkat dengan hiponatremi. Dalam kondisi hiponatremi dapat menekan rennin
dan sekresi aldosteron menyebabkan penurunan Na diabsorbsi tubulus proximal.
Dalam keadaan normal ADH mengatur osmolalitas plasma, bila osmolalitas menurun
mekanisme Feed back akan menyebabkan inhibisi ADH. Hal ini akan mengembalikan
dan meningkatkan ekskresi cairan oleh ginjal untuk meningkatkan osmolalitas
plasma menjadi normal. Pada SIADH osmolalitas plasma terus berkurang akibat ADH
merangsang reabsoprbsi air oleh ginjal.
(Ellen,
Lee, dkk, 2000)
Hormon
Antidiuretik (ADH) bekerja pada sel-sel duktus koligentes ginjal untuk
meningkatkan permeabilitas terhadap air. Ini mengakibatkan peningkatan reabsorbsi
air tanpa disertai reabsorbsi elektrolit. Air yang direabsorbsi ini
meningkatkan volume dan menurunkan osmolaritas cairan ekstraseluler (CES). Pada
saat yang sama keadaan ini menurunkan volume dan meningkatkan konsentrasi urine
yang diekskresi
Pengeluaran
berlebih dari ADH menyebabkan retensi air dari tubulus ginjal dan duktus.
Volume cairan ekstra selluler meningkat dengan hiponatremi.Dimana akan terjadi
penurunan konsentrasi air dalam urin sedangkan kandungan natrium dalam urin
tetap,akibatnya urin menjadi pekat.
Dalam
keadaan normal, ADH mengatur osmolaritas serum. Bila osmolaritas serum menurun,
mekanisme feedback akan menyebabkan inhibisi ADH. Hal ini akan mengembalikan
dan meningkatkan ekskresi cairan oleh ginjal untuk meningkatkan osmolaritas
serum menjadi normal.
Terdapat
berapa keadaan yang dapat mengganggu regulasi cairan tubuh dan dapat
menyebabkan sekresi ADH yang abnormal . Tiga mekanisme patofisiologi yang
bertanggung jawab akan SIADH , yaitu
- Sekresi ADH yang abnormal sari system hipofisis. Mekanisme ini disebabkan oleh kelainan system saraf pusat, tumor, ensafalitis , sindrom guillain Barre. Pasien yang mengalami syok, status asmatikus, nyeri hebat atau stress tingkat tinggi, atau tidak adanya tekanan positif pernafasan juga akan mengalami SIADH.
- ADH atau substansi ADH dihasilkan oleh sel-sel diluar system supraoptik – hipofisis , yang disebut sebagai sekresi ektopik ( misalnya pada infeksi).
- Kerja ADH pada tubulus ginjal bagian distal mengalami pemacuan . bermacam-macam obat-obat menstimulasi atau mempotensiasi pelepasan ADH . obat-obat tersebut termasuk nikotin , transquilizer, barbiturate, anestesi umum, suplemen kalium, diuretic tiazid , obat-obat hipoglikemia, asetominofen , isoproterenol dan empat anti neoplastic : sisplatin, siklofosfamid, vinblastine dan vinkristin.
(Otto, Shirley 2003,)
D.
Manifestasi Klinik
Manifestasi
yang berhubungan dengan SIADH adalah :
1. Hiponatremi, kebingungan, kesadaran
menurun/letargi sensitive koma, mobilitas gastrointestinal menurun (Anorexia).
2. Takhipnea.
3. Kelemahandan Letargi
4. Peningkatan BB
5. Sakit kepala
6. Mual dan muntah
7. Kekacauan mental dan Kejang.
8. Penurunan keluaran urine
Tanda
dan gejala yang dialami pasien dengan SIADH tergantung pada derajat lamanya
retensi air dan hiponatremia misalnya:
1. Na
serum >125 mEq/L.
a. Anoreksia.
b. Gangguan
penyerapan nutrisi.
c. Kram
otot.
2. Na
serum = 115 – 120 mEq/L.
a. Sakit
kepala,
b. Perubahan
kepribadian.
c. Kelemahan
dan letargia.
d. Mual
dan muntah.Kram abdomen
3. Na
serum < 1115 mEq/L.
a. Kejang
dan koma.
b. Reflek
tidak ada atau terbatas
c. Tanda
babinski.
d. Papiledema.
(
Sylvia, 2005)
E.
Vasopresin
oleh sel tumor
|
Obat-obat
diuretik
|
Kelainan
sistem saraf pusat
|
Urine menjadi pekat
|
Retensi
urine
|
Gangguan pola pikir
|
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
Desmopresin
asetat
|
Atrofi serebrum
|
hidrosefalus
|
delifiumtremens
|
vasopresin
|
Akibat
pengunaan obat cholorpropamid
|
klopropamid
|
bronkogenik
|
pankreatik
|
limfoma
|
Hipofisis
postarior terganggu
|
Menstimulasi
kelenjar hipofisis
|
Produksi
vasopresin meningkat
|
Mempengaruhi
produksi hormon ADH
|
Meningkatkan
sensitifitas tubulus renal terhadap ADH dalam darah
|
Pengeluaran
ADH meningkat
|
SIADH
|
Pengeluaran
ADH yang berlebihan
|
Akan terjadi retensi air
|
Lalu terjadi hiponatremi
|
Dimana
akan terjadi penurunan kosentrasi air dalam urin
|
Natrium
urin tetap
|
Menurunnya
osmolaritas cairan ekstraseluler
|
Hal
ini dapat meningkatkan volume air
|
Volume cairan berlebihan
|
Pelepasan
hormon ADH tanpa kontrol
|
Akan terjadi hiponatremi
|
Akan mengakibatkan
|
Suplai
darah ke otak yang kekurangan natrium
|
hipoglikemia
|
F.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Natrium serum menurun
<15 M Eq/L.
2.
Natrium urin > 20 M Eq/L menandakan SIADH.
3.
Osmolalitas,umumnya rendah tetapi mungkin normal atau
tinggi.Osmolalitas urin,dapat turun/biasa < 100 m osmol/L kecuali pada SIADH
dimana kasus ini akan melebihi osmolalitas serum. Berat jenis urin:meningkat (< 1,020) bila ada SIADH.
4.
Hematokrit (Ht dan Hb), tergantung pada keseimbangan cairan,misalnya:kelebihan
cairan melawan dehidrasi.
5.
Osmolalitas plasma dan hiponatremia (penurunan
konsentrasi natrium,natrium serum menurun sampai 170 M Eq/L.
6.
Prosedur khusus :tes fungsi ginjal(nitrogen
urea darah (blood urea nitrogen/BUN,
atau kadang disebut sebagai urea)
dan kreatinin).
7.
Pengawasan di tempat tidur : peningkatan tekanan darah
(dilakukan pada pasien yang menjalani rawat inap dirumah sakit dan pemantauan
dilakukan untuk menghidari atau mencegah terjadinya hal yang memperberat
penyakit klien).
(Sacher,
Ronald A. 2004)
G.
Komplikasi
Komplikasi atau gejala sisa dari SIADH, meliputi:
1. hipourikemia
Hipourikemia adalah kadar urea dalam
darah sangat rendah. Nilai normal urea dalam darah adalah 20 mg – 40 mg setiap 100 ccm darah. Penurunan kadar urea sering dijumpai
pada penyakit hati yang berat. Pada nekrosis hepatik akut, sering urea rendah
asam-asam amino tidak dapat dimetabolisme lebih lanjut. Pada sirosis hepatis,
terjadipengurangan sintesis dan sebagian karena retensi air oleh sekresi
hormone antidiuretik yang tidak semestinya.
2. overload
tipe hipotonik
Lazim disebut
“Keracunan Air”. Ketidakseimbangan cairan tubuh dimana seluruh tubuh akan
berada dalam keadaan hipotonik, disertai dengan osmolaritas tubuh menurun.
Sehingga didalam tubuh, cairan ekstraseluler akan pindah ke kompartemen
intraseluler. Terjadi expansi air berlebihan diseluruh kompartemen cairan dan
kadar elektrolit berkurang karena dilusi (rendahnya elektrolit serum). Dalam
kondisi berpindahnya cairan seperti ini, tubuh sangat sulit mengkompensasinya.
Faktor penyebab tubuh menjadi overload hipotonik adalah SIADH (kumpulan gejala
karena malfungsi hormon antidiuretik)
3. penurunan
Osmolaritas (plasma)
Tekanan normal osmolaritas plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Sementara penurunan osmolaritas
plasma terjadi akibat Kerja hormon ADH yang berlebihan dan gangguan pada ginjal
dalam meekskresikan cairan.Pada
keadaan ini tertjadi perpindahan cairan dari ekstrasel ke intrasel, termasuk ke
sel otak. Hal ini akan menyebabkan terjadinya edema otak yang mana keadaan ini
merupakan keadaan berat yang dapat menyebabkan kejang dan penurunan kesadaran.
4. hipokalemia
Nilai norman kalium dalam darah
adalah (3,5 - 5,0 MEQ/L). Penyebab utama kehilangan kalium
adalah penggunaan obat-obatan diuretik yang juga menarik kalium misalnya:
tiazid dan furosemid) (Tamsuri anas 2009).
5. hipomagnesemia
Nilai normal magnesium dalam darah
adalah (1,4 – 2,1 Mg/l). Hipomagnesemia dapat terjadi karena penggunaan
beberapa obat dalam jangka waktu lama (diuretik, siplantin) (Tamsuri anas
2009).
Semua komplikasi atau gejala SIADH
diatas bersifat sekunder dan agak mirip. Pada banyak kasus beda antara gejala
dan komplikasi SIADH kurang jelas dan sulit dibedakan.
H.
Penatalaksanaan
Pada umumnya pengobatan
SIADH terdiri dari restriksi cairan
(manifestasi klinis SIADH biasanya menjadi jelas ketika mekanisme haus yang
mengarah kepada peningkatan intake cairan. Larutan hipertonis 3% tepat di gunakan
pada pasien dengan gejala neurologis akibat hiponatremi ( Bodansky &
Latner)
a.
Penatalaksanaan SIADH terbagi menjadi 3 kategori yaitu:
a)
Pengobatan penyakit yang mendasari, yaitu pengobatan yang
ditunjukkan untuk mengatasi penyakit yang menyebabkan SIADH, misalnya berasal
dari tumor ektopik, maka terapi yang ditunjukkan adalah untuk mengatasi tumor
tersebut.
b)
Mengurangi retensi cairan yang berlebihan.
Pada kasus ringan retensi
cairan dapat dikurangi dengan membatasi masukan cairan. Pedoman umum penanganan
SIADH adalah bahwa sampai konsenntrasi natrium serum dapat dinormalkan dan
gejala-gejala dapatdiatasi.Pada kasus yang berat, pemberian larutan normal cairan
hipertonik(Adalah
cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga
“menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.
Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin. Penggunaannya
kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45%
hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah)
dan albumin)dan furosemid
(lasix) adalah terapi pilihan.
c)
Semua asuhan yang diperlukan saat pasien mengalami
penurunan tingkat kesadaran (kejang, koma, dan kematian) seperti pemantauan
yang cermat masukan dan haluaran urine. Kebutuhan nutrisi/ diit dengan garam Na dan K dengan aman terpenuhi dan dukungan emosional.
b.
Rencana non farmakologi
a)
Pembatasan cairan (pantau kemungkinan kelebihan cairan)
b)
Pemberian diit dengan garam Na dan K dengan aman
c.
Rencana farmakologi
a)
Penggunaan diuretic untuk mencari plasma osmolaritas
rendah
b)
Obat/penggunaan obat demeeloculine, untuk menekan
vosopresin
c)
Hiperosmolaritas, volume oedema menurun
d)
Ketidakseimbangan system metabolic, kandungan dari
hipertonik saline 3 % secara perlahan-lahan mengatasihiponatremi dan peningkatan
osmolaritas serum (dengan peningkatan = overload) cairan dengan cara
penyelesaian ini mungkin disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif.
e)
Pengobatan khusus = prosedur pembedahan
d.
Penyuluhan yang dilakukan bagi penderita SIADH antara
lain :
a)
Pentingnya memenuhi batasan cairan untuk periode yang di
programkan untuk membantu pasien merencanakan masukan cairan yang
diizinkan(menghemat cairan untuk situasi social dan rekreasi).
b)
Perkaya diit dengan garam Na dan K dengan aman. Jika
perlu, gunakan diuretic secara kontinyu.
c)
Timbang berat badan pasien sebagai indicator dehidrasi.
d)
Indikator intoksikasi air dan hiponat : sakit kepala,
mual, muntah, anoreksia segera lapor dokter.
e)
Obat-obatan yang meliputi nama obat, tujuan, dosis,
jadwal, potensial efek samping.
f)
Pentingnya tindak lanjut medis : tanggal dan waktu.
g)
Untuk kasus ringan,retreksi cairan cukup dengan
mengontrol gejala sampai sindrom secara spontan lenyap.Apabila penyakit lebih
parah,maka diberikan diuretik dan obat yang menghambat kerja ADH di tubulus
pengumpul.Kadang-kadang digunakan larutan natrium klorida hipertonik untuk
meningkatkan konsentrasi natrium plasma.
(Tisdale , James & Miller,
Douglas . 2010)
I.
Fokus pengkajian
1. Identitas pasien meliputi nama, umur,
pekerjaan, dan alamat.
2. Riwayat penyakit dahulu.
adakah penyakit atau
trauma pada kepala yang pernah diderita klien,serta riwayat radiasi pada
kepala.
3. Riwayat penyakit sekarang,
Harus ditanya dengan jelas tetang gejala
yang timbul seperti sakit kepala, demam, dan keluhan kejang. Kapan mulai
serangan, sembuh atau bertambah buruk, bagaimana sifat timbulnya, dan stimulus
apa yang sering menimbulkan kejang.
4. Riwayat penyakit keluarga
riwayat penyakit keluarga terutama yang
mempunyai penyakit menular.
5. Pantau status cairan dan elektrolit.
6. Monitor status neurologis yang
berhubungan dengan hiponatremi dan segera lakukan tindakan untuk mengatasinya.
7. Catat perubahan berat badan (BBI jika
ada peningkatan dari 1 kg laporkan pada dokter).
8. Pengkajian Fisik:
a. Inspeksi: Vena leher penuh.
b. Perkusi: Penurunan refleks tendon dalam.
c. Auskultasi: Kardiovaskuler : Takikardia.
(Doengoes,Marilyn
C. 2003)
J.
Diagnosa Keperawatan
1. Volume cairan berlebih berhubungan
dengan sekresi ADH yang berlebihan.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perubahan absorbsi nutrisi dan natrium.
3. Retensi urine berhubungan dengan
hiponatremia
4. Gangguan proses pikir berhubungan dengan
penurunan kadar Na
(Diagnosa Keperawatan NANDA.
2005-2006)
K.
Intervensi
1. Volume cairan berlebih berhubungan dengan
sekresi ADH yang berlebihan.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan terjadi
keseimbangan cairan dan pengeluaran urin kembali seimbang.
Kriteria
Hasil :
a. Volume
cairan dan elektrolit dapat kembali dalam batas normal
b. klien
dapat mempertahankan berat badan dan volume urin 800 – 2000 ml/hari
c. Input
sama dengan output
Intervensi:
a) Pantau
masukan dan haluaran cairan dan tanda tanda kelebihan cairan setiap 1 – 2
jam.
Rasional: Catatan masukan dan haluaran membantu mendeteksi
tanda dini ketidakseimbangan
b) Catat
seri Berat badan, bandingkan dengan pemasukan pengeluaran
Rasional: Seri berat badan adalah indikator akurat status
Volume cairan. Keseimbangan cairan positif dengan peningkatan Berat badan
menunjukan retensi Cairan.
c) Evaluasi terjadinya takipnea,dispnea,
peningkatan upaya pernapasan dan beritahu dokter
Rasional: distensi
abdomen dapat menyebabkan sesulitan bernapas
d) Kaji sakit kepala,kram otot, kacau
mental, disorientasi
Rasional: gejala
menunjukan hiponatremia atau intoksikasi air
e) Pantau
elektrolit atau osmolalitas serum resiko gangguan signifikan bila serum Na
kurang dari 125 mEq/L
Rasional: Untuk mengetahui keadaan natrium serum
f) Batasi
masukan cairan.
Rasional: Mencegah intoksikasi air.
g) Monitor
TTV
Rasional: Tanda-tanda vital menjadi indikasi dari kondisi
klien.
h) Kolaborasi medis untuk pemberian
obat-obatan.
Rasional: Untuk
memberikan terapi medis pada klien
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan perubahan absorbsi nutrisi dan natrium.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
BB stabil,pasien bebas dari tanda-tanda malnutrisi dan pasien dapat
mengumpulkan energi untuk beraktivitas kembali.
Kriteria
Hasil :
a. Asupan nutrisi terpenuhi.
b. Asupan makanan dan cairan.
c. BB meningkat.
d. Kekuatan dapat terkumpul kembali.
Intervensi :
a) Kaji
riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai
Rasional: mengidentifikasi atau
menduga kemungkinan intervensi yang akan di beriakan
b) Observasi
dan catat masukan makanan pasien
Rasional: Mengawasi Jumlah kalori/
kualitas kekurangan konsumsi makanan
c) Timbang
berat badan setiap hari.
Rasional: Memberikan informasi
tentang keadaan masukan diet atau penentuan kebutuhan nutrisi.
d) Buat
pilihan menu yang ada dan ijinkan pasien untuk mengontrol pilihan sebanyak
mungkin.
Rasional: Untuk membuat klien
meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka
menyediakan makanan untuk dimakan.
e) Berikan makanan tinggi kalori untuk
peningkatan energi.
Rasional:
Untuk meningkatkan atau mengembalikan tenaga klien
f) Tingkatkan makanan yang mengandung
protein,vitamin dan besi apabila dianjurkan.
Rasional:
Untuk mempercepat proses pembentukan sel-sel yang rusak
g) Pantau
hasil pemeriksaan Lab. Misal: Hb/Ht, BUN, Albumin, Protein dan elektrolit serum
Rasional: meningkatkan efektivitas
program pengobatan termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.
h) Konsul
pada ahli gizi
Rasional: memantau dalam membuat
rencana diet untuk memenuhi kebutuhan klien.
i)
Kolaborasi, Berikan cairan IV
hiperalimentasi dan lemak sesuai indikasi1. Kaji BB
Rasional: Memenuhi kebutuhan cairan
atau nutrisi sampai masukan oral dapat dimulai.
3. Retensi urine berhubungan dengan
hiponatremia .
Tujuan
: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam, pengeluaran urin
kembali normal
Kriteria
hasil :
a. Volume urine kembali normal.
b. Urin dapat keluar dengan lancar.
c. Na serum dapat kembali normal.
Intervensi :
a) Kaji dengan mengidentifikasi dan penanganan
penyebab yang mendasari
Rasional : memberikan petunjuk untuk
intervensi dini.
b) Batasi masukan cairan.
Rasional : menjaga keseimbangan cairan
tubuh.
c) Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4
jam dan apabila tiba-tiba dirasakan
Rasional: meminimalkan retensi urine
distensi yang berlebihan pada kandung kemih
d) Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap
berkemih, perhatikan penurunan haluaran urine dan perubahan berat jenisnya
Rasional: retensi urin meningkatkan
tekanan saluran perkemihan atas, yang mempengaruhi fungsi ginjal.
e) Observasi aliran urin, perhatikan ukuran
dan kekuatannya.
Rasional: berguna untuk mengevaluasi
kemungkinan penyebab obstruksi dan pilihan intervensi
f) Perhatikan pola berkemih dan awasi
keluaran urine.
Rasional: dapat mengidentifikasi retensi
urine bila berkemih sering dalam jumlah sedikit
g) Periksa residu volume urin, setelah
berkemih bila di indikasikan
Rasional: Tidak dapat mengosongkan
kandung kemih secara lengkap bisa meningkatkan kemungkinan infeksi dan nyeri.
h) Pemberian lasix atau furosemid untuk
memudahkan pengeluaran cairan.
Rasional : untuk mempermudah pengeluaran
urin.
4. Gangguan proses pikir berhubungan dengan
penurunan kadar Na.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
tingkat kesadaran dapat meningkat kembali.
Kriteria
hasil :
a. Pasien mampu berkomunikasi dengan baik.
b. Pasien bisa meningkatkan konsentrasinya.
c. Orientasi pasien kembali normal.
d. Proses informasi bisa kembali lancar.
Intervensi:
a) Kaji keadaan umum pasien.
Rasional: untuk mengetahui tingkat
kesadaran akibat hiponatrimea
b) Pantau
tentang kebingungan, dan catat tingkat anxietas pasien.
Rasional:
Rentang perhatian untuk berkonsentrasi mungkin memendek secara tajam yang
berpotensi terhadap terjadinya ansietas yang mempengaruhi prose pikir pasien
c) Batasi
aktivitas pasien dalam batas-batas wajar untuk mengumpulkan energi.
Rasional:
Tingkah laku yang sesuai tidak akan memerlukan energi yang banyak dan mungkin
bermanfaat dalam proses belajar struktur internal.
d) Monitor TTV.
Rasional: Tanda-tanda vital menjadi indikasi
dari kondisi klien
e) Monitor fungsi ginjal
Rasional: untuk mengetahui keadaan
ginjal karena hiponatremi
f) Kurangi
stimulus yang merangsang, kritik yang negatif, argumentasi, dan konfrontasi
Rasional:
Menurunkan resiko terjadinya respon penolakan atau pertengkaran
g) Ajarkan
untuk melakukan teknik relaksasi.
Rasional:
Dapat membantu memfokuskan kembali perhatian klien dan untuk menurunkan
ansietaspada tingkat yang dapat ditanggulangi.
h) Pertahankan
harapan realitas dari kemampuan pasien untuk mengontrol tingkah lakunya
sendiri, memahami, dan mengingat informasiKaji
keadaan umum pasien.
Rasional: Penting untuk mmepertahankan harapan
dari kemampuan untuk mempertahankan harapan,dan meningkatkan aktivitas
rehabilitasi
(Diagnosa
Keperawatan NANDA. 2005-2006)
DAFTAR PUSTAKA
Ellen, Lee, dkk, 2000, Pathofisiology, Phiadelpia: W, B,
Soundres.
Black M. Matassarin and Jacob M.Ester,
1997. Medical Surgical Nursing Ed.3 .
Philadelphia : W.B. sounders.
Corwin,J.Elizabet. 2001. Patofisiologi:Sistem Endokrin. Jakarta :
EGC.
Doengoes,Marilyn C. 2003. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta : EGC.
Price,Sylvia. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Otto, shirley E. 2003.Buku saku keperawatan onkologi. Jakarta:
EGC.
Tisdale , James & Miller, Douglas . 2010. Drug-Induced Diseases: Prevention, Detection, and Management, page 892. U.S : heartside publishing.
Grabe, Mark A dkk. 2006. Buku saku dokter keluarga. Jakarta:EGC.
Sacher,
Ronald A. 2004. Tinjauan kasus hasil
pemeriksaan laboratorium. Jakarta: EGC
Barbara
K.Timby.2000.KeterampilanDasardan
KonsepdiPerawatan Pasien. Jakarta:EGC
terimakasih banyak infonya, sangat menarik sekali dan bermanfaat
BalasHapushttp://landongobatherbal.com/obat-herbal-infeksi-ginjal/